Arahan.id Bengkulu Utara ~ Saya pribadi selaku perwakilan warga adat, sangat tidak setuju dengan adanya penanaman kelapa sawit yang ada di pulau Enggano kecamatan Bengkulu Utara provinsi Bengkulu
Permasalahan utama penanaman pohon sawit di Pulau Enggano adalah penolakan keras masyarakat adat dan masyarakat lokal yang menganggap sawit sebagai ancaman serius terhadap lingkungan, sosial, dan budaya mereka. Kekhawatiran ini meliputi ancaman terhadap sumber air bersih, kerusakan hutan adat, serta potensi konflik sosial dan hilangnya mata pencarian tradisional (melaut dan bertani). Meskipun ada kesepakatan larangan sejak 2009, beberapa warga dan perangkat desa justru membiarkan dan bahkan memfasilitasi penanaman sawit, yang kini berujung pada desakan untuk mengeluarkan peraturan larangan yang lebih kuat.
Dampak Ekologis dan Lingkungan
Ancaman Air Bersih:
Kelapa sawit membutuhkan banyak air, yang dikhawatirkan dapat mengancam ketersediaan air tanah di Pulau Enggano dan memicu kekeringan.
Kerusakan Hutan Adat:
Pembukaan lahan untuk perkebunan sawit dapat merusak ekosistem hutan adat dan mengurangi keanekaragaman hayati di pulau tersebut.
Pengaruh pada Pulau Kecil:
Sebagai pulau kecil yang dipengaruhi Samudra Hindia, eksploitasi lahan yang masif seperti pembukaan kebun sawit akan memperparah kondisi pulau.
Ancaman Terhadap Mata Pencarian masyarakat di sekitar pulau Enggano kecamatan Bengkulu Utara:
Sawit bisa mengganggu komoditas lain seperti pisang dan jengkol, serta mengubah mata pencarian masyarakat yang semula bertani dan melaut menjadi buruh panen.
Saya selaku perwakilan warga Enggano termasuk juga warga adat, sangat tidak setuju dengan adanya penanaman kelapa sawit di pulau Enggano, kami pernah mengadakan orasi penolakan terkait tentang penanaman kelapa sawit dan oknum tangan tangan yang tidak bertanggung jawab,” ujar Ampi Kaarubi
Penulis : Ampi












