Wartawan Dalam Lamunan

Ilustrasi (Foto/pixabay.com)

Oleh : Benny Hakim Benardie.

“Kusangka aur (Buluh/Bambu) dipinggir Tebing.  Kiranya tebu dipinggir bibir. Kusangka jujur pancaran bathin. Rupanya palsu penghias  Zhahir”.  Syair Melayu.

Ayunan boyan-boyan diberanda rumah membuat kian panjangnya lamunan  yang tak tentu arah.  Mulai dari perjuangan dan perjalanan hidup, hingga mencoba reka-reka rangkai kisah Behdi.  Wartawan yang  tegar usai tiga kali dikarantina dalam pelatihan kewartawanan, karena diangap belum pernah cakap sebagai calon wartawan.

Tentunya itu pasca Behdi merantau pada Tahun 1990 di Ibukota Jakarta dari Bengkulu Kota. Studynyapun di salah satu Universitas tertua di Kota Bengkulu ditinggalkannya. Hanya untuk suatu tujuan, ingin mewujudkan cita-cita kecilnya sebagai seorang  wartawan.

“Apapun itu bila punya nilai berita, maka beritakanlah.  Cicak jatuhpun dapat kamu beritakan. Meskipun dengan konsekuensi, haus minum lapar minum,” pesan seorang guru kala itu.

Keinginan kuat itulah Behdi terus berjuang dengan khayal sebagai wartawan sejati . Tentunya masa itu Behdi belum paham akan perbedaan antara ‘Idealisme dan buyanisme”. Faham sesuai dengan tugas, fungsinya dan faham kebodohan.

Petang usai bada Asyar, angin mulai bertiup senai-senai. Hening bukan tak ada kebisingan, tapi candu lamunan kali ini menghalau suara untuk melintas di daun telinga. Sempat keasyikan itu terhenti, saat dua ekor cicak diatas plafon mengeluarkan hajatnya, dan mengenai persis ujung hidung Behdi.

“Aai……Dasar binatang nian.  Idak tau diadat gendek ko”, Behdi ngedumel ala Melayu Bengkulu.

Diliriknya, dua cicak itu tampak masih saja mengoyang-goyangkan ekornya.  Buru-buru Hamba mengambil karet gelang yang ada dilantai. Tapi sial. Rencana sasarannya luput. Saat mau dibidik, dua cicak itu telah menghilang, Pergi ngumpet, nyelinap dibalik renggangan plafon beranda rumah.

Ditemani secangkir kopi, dan rokok daun nipahnya, Behdi Kembali duduk di ayunan boyan-boyan. Tak ada dipikiranya, kenapa dan ada apa dirinya mendapat serangan dari dua ekor cicak nakal itu. Behdi mencoba mengingat dan merangkai kembali cerita  yang sudah dilamunkannya. Hendak hati lamunan lanjut kembali terjadi. Apa daya  angin senai-senai mulai berganti pancaran mentari senja dari ufuk barat  Negeri Bengkulu.

Negeri yang konon merupakan negeri bersejarah meskipun tanpa rasa dan warna.  Meskipun faktanya, negeri ini selalu ada saat orang bercerita Portugis, Prancis, Inggris Belanda dan Jepang.  Akan terlintas di pikiran, ada Negeri disebut Bencoolen, Benkolen, Bengkulu saat orang bercerita Malaysia dan Singapura.  Negeri Tanah Mati di bagian barat Pulau Sumatera.

Usai menyeruput kopi, menghembuskan asap rokok daun nipah dari muncung dan hidung, rangkaian lamunan yang sempat buyar beberapa sisa teringat kembali. Kisah itu tergiang dipertengahan Tahun 1997 silam. Kala itu  suasana Ibukota Jakarta mulai terasa tak nyaman. Wartawan Behdi terus saja naik turun bus dan kereta listrik, hunting berita usai shalat subuh berlalu.

Saat itu redaktur pemberitaannya menempatkan Behdi sebagai wartawan hukum dan kriminal. Dari pagi hingga petang Behdi dilapangan sebelum kembali ke kantor. Dari Polda hingga rumah sakitpun  disubuknya, untuk memenuhi empat berita dalam sehari.  Dimana tiap berita, harus memenuhi satu setengah kuarto dengan satu spasi.