Cerpen  

Nostalgia di Terminal Purwodadi Kota Argamakmur

Terminal Purwodadi.

Terik mentari siang itu cukup menyengat meski diiringi angin sepoi sepoi, Minggu 2023 di Kota Argamakmur. Pram kembali menginjakkan kaki di tanah kelahiran.

Disudut terminal, tampak kepulan asap dan desingan mesin becak motor roda tiga terlihat lalu lalang. Ingat masa itu, kendaraan yang dahulunya acap kali ditumpangi saat ke sekolah bersama teman di SMAN 1 Kota Argamakmur, Bengkulu Utara.

Tertegun sejenak, tatapan mata tertuju menatap bangunan di sekeliling Terminal Purwodadi Argamakmur yang kini banyak perubahan. “Semuanya tidak se-asri dahulu, dan tidak seindah dahulu,” terbetik di dalam hati Pram.

20 Tahun telah berlalu meninggalkan kota kelahiran semuanya terasa asing. Terlintas dalam ingatan, angkutan penumpang dan barang lintas Kecamatan Lais, Lubuk Durian, Padang Jaya,Giri Mulya dan dari Kota Bengkulu selalu nongkrong di Terminal Purwodadi Argamakmur.

“Pram……” Mendadak terdengar teriakan, panggilan seseorang di sudut bangunan terminal. Membuat Pram tersadarkan dari lamunannya, dan menoleh ke arah suara yang memanggil namanya.

Pergi mendekat, namun Lupa-lupa ingat, “Emmm… Kamu Jono ya,” kata Pram, sembari menjulurkan tangan dan bersalaman.

“Iya, saya Jono, teman SMA-mu dahulu,” sahut Jono.

“Apa kabar mu, sudah berapa anakmu sekarang,” tanya Pram sambil tersenyum kepada sohibnya itu.

“Alhamdulillah, baik. Saya gak bisa beranaklah Pram, yang ada anak istriku,” seloroh Jono membalas senyuman.

“Kemana saja selama ini, sudah lama kamu menghilang tak berkabar,” lanjut Jono.

“Saya selama ini di Jakarta, Jon. Berjuang di tanah rantau,” jawab Pram.

”Ngomong ngomong, kamu sudah berkeluarga,” tanya Jono penasaran.

“Belum, Jon. Masih pengen hidup menyendiri,” jawab Pram cengengesan.

Perbincangan keduanya pun berlanjut, terpendam nostalgia di Terminal Purwodadi Argamakmur. Ingat masa disaat mereka pernah membawa becak motor dan mangkal di Terminal Purwodadi Argamakmur.

Cerita pun bak air mengalir, duduk dan sambil seruput air kopi di warung pinggiran Terminal Purwodadi Argamakmur. Tertawa lepas mengenang nostalgia masa masa itu.

Hari itu, tanpa terasa warna senja merona mulai terlihat di ufuk barat. Pertemuan kedua insan yang lama tak bersua selama ini menceritakan tentang nostalgia di Terminal Purwodadi Argamakmur terhenti.

“Ok Jon, besok kita sambung kembali ceritanya, bawa anak dan istrimu main kerumah. Saya masih tinggal di Kelurahan Gunung Alam,” kata Pram.

“Iya Pram, besok kita kontek-kontek saja lewat telepon, mana nomor teleponmu,’ pinta Jono.

Bergegas Pram mengeluarkan handphone di sakunya, dan memberikan nomor yang diminta sohibnya itu.

“Assalamualaikum,” tutup Pram.

“Waalaikumsalam,” timpal Jono sembari melangkah pergi meninggalkan Pram di pinggir jalan yang tengah menunggu becak motor. Selang tak berapa lama becak motor yang ditunggu pun melintas.

“Becak…..” panggil Pram. Joki becak motor berperawakan gaek itu pun berhenti dan menunggu penumpangnya naik.

“Kemana Bang,” kata Si joki.

“Antarkan saya ke Gunung Alam, Pak,” jawab Pram sembari menaiki becak motor. Tanpa pikir panjang, joki becak motor itu pun tancap gas.

Entah mengapa kembali terlintas di dalam benak Pram,“Alangkah malangnya nasibmu Terminal Purwodadi Argamakmur. Semua nostalgia itu terkubur bersama masa.” gumamnya.

“Aghhh… itu hanya ilusi ku saja, manalah mungkin tidak ada perubahan di negeriku ini, karena ada pemimpin yang sudah diberi amanah oleh rakyatnya,” bisik hatinya.

Dalam renungan itu, tanpa terasa becak motor yang ditumpangi sampai ditujuan. Pram pun menyapa joki tersebut.

“Pinggir Pak,” kata Pram. joki becak motor itu pun memperlambat laju kendaraanya.

“Berapa ongkosnya Pak” tanya Pram sembari turun dari becak motor yang ditumpanginya itu.

“5 ribu, Bang,” jawab joki becak. Secepat kilat Pram merogoh kocek di kantong celananya dan menyodorkan uang pecahan 50 ribu kepada joki tua itu.

“Sisanya buat Bapak saja,” kata Pram.

“Terima kasih banyak, Bang,” balas Si joki becak motor dengan senyum sumringah dan berlalu pergi tancap gas.

Cerpen: By Rizal Piliank

Penulis tinggal di Argamakmur, Bengkulu Utara