Cerpen: Benny Hakim Benardie
Ceritera ini sudah empat dekade berlalu. Tak ada lagi rasa pilu, sedih dan dendam yang berkecamuk di relung hatiku. ‘Nasi sudah menjadi bubur’. Tak ada kegunaan lagi penyesalan. Lebih baik nasi bubur ditaburi sobekan ayam, kacang dan bawang goreng, agar nikmatnya lebih terasa di usiaku jelang 55 tahun ini.
Ketidakberuntungan hidup ini berawal di pagi hari, Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng, sekitar empat jam perjalanan dari desaku. Neng, begitulah aku biasa dipanggil dibelakang namaku Neneng.
Tubuhku yang bongsor, membuat para pria tua atau muda kala itu acapkali mengodaku, sebelum aku menentukan pilihan cinta yang jatuh pada Om Riki Susilo, pria yang mengaku GM perusahaan besar di Provinsi Bengkulu. Terakhir baru saya tahu kalau GM itu bukannya general manager di suatu perusahaan, tapi germo, alias mucikari di Pulau Biru, sebuah perkampungan yang letaknya di pinggir Pantai Bengkulu Kota nan indah menghampar jauh ke laut China.
“Neng……Ayo ntar kita ketinggalan pesawat. Jangan-jangan itu panggilannya pesawat mau lepas landas”, panggil Om Riki yang tampaknya usai dari kantin bandara.
“Ya….. Aku dari tadi juga nunggu”.
Aku berlari sambil menenteng tas. Rencananya aku akan ke Bengkulu selama satu minggu, bersilaturahmi dengan keluarga Om yang ada disana. Tentunya aku sangan mau dan menginginkannya. Apalagi hubungan aku dengan Om Riki selama ini sudah terlalu jauh, bahkan layaknya suami istri. Hidup bersama tanpa menikah.
Kalau tidak salah, pesawat yang kami naikkan kala itu namanya Hercules. Itu kali pertama aku naik pesawat. Terbang bekisar satu jam, pesawat landing. Saat turun tampak bandara yang dikelilingi hutan lebat. Aroma udara seperti bercampur garam terasa menyengat. Tapi segar terasa meskipun terik mentari seolah membakar sekujur berbahaya.
“Nah neng, nyampe kita di kota Om”, tergur om Riki seraya melipat bahuku. Akupun senang membayar pinggul Om Riki.
“Lah kok ini kota Om? Nama Om aja Riki Susilo, itukan menunjukan Om orang Jawa he he he……”, godaku, yang hanya dibalas senyuman manis my love, pujaanku, jantung hatiku tercinta.
Aku kira ada jemputan yang menanti, ternyata tidak. Kami harus jalan bergandengan lebih kurang 400 Meter dan menunggu angkutan kota yang melintas. Tapi bukannya masalah, asal bertemu keluarga Om Riki cepat terwujud.
Dari dalam angkutan kota itu, terdengar alunan lagu yang hingga kini selalu ku ingat di benakku. Kata Om Riki itu lagu lagi populer, tapi dia lupa judulnya.
Liriknya seingatku begini………“Setitik Embun Menitik. Beribu kuntum mengembang. Sepatah aku berjanji, kau sebut kau ulang-ulang. Hancurlah hujan di batu, meresap ditelan bumi. Segala sumpah janjimu, tak satu yang kau tepati. Diada tuntutan, tiada ungkitan, Darimu puan……Ku rela dilupakan, ku ingat jangan, dikenang jangan…..Berlalu kisah di taman, Bak mimpi diganggu siang. Disebut, ingat jangan. Tak usah dikenang kenang”.
Hingga kini lagu itu sering aku nyanyikan, saat merintang hari nanti malam menjelang yang membawa diriku ke pulau kapuk, hingga dinginya waktu fajar membangunkan tubuh yang kini kian lunglai ini tetap tanpa pendamping selain kedua buah hatiku, Ronal dan Rini yang kini sudah remaja.









