Cerpen  

Senja di Tapak Paderi

Pantai Tapak Paderi, Photo by akbarrharvii.

PENYAIR MENULIS

Dari pojok sobekkan surat kabar, tertera tulisan Cikben, seorang penyair yang menulis, “Bila ingin merasakan nikmat dan indahnya cinta, jangan akhiri cinta itu dengan perkawinan. Sesungguhnya cinta itu hanyalah khayal seseorang belaka. Cinta hanya indah untk dikenang, bukan saat ada ikatan”.

Sempat tertegun Mahgdalena. Tak dihiraukannya beberapa saat akan indah dan luasnya laut Samudera Hindia. Bergegas ia tegak dan beranjak untuk pulang kerumah, meskipun mentari petang belum meninggalkannya.

“Bu kok cepat pulangnya?” Teriak seorang pria, pedagang jagung bakar yang sudah terbiasa melihat kesendirian Mahgdalena di puncak unggukan tanah Tapak Paderi.

“ Ia pak, mau pulang dulu….Lagi nggak enak badan he he he …”, jawabnya sembari gegas berlalu.

Looo….Hati-hati bu, soalnya jalanan lagi ramai, ada pawai anak-anak pengajian”.

“Ya terimakasih ya…”, jawabnya seperti biasa tampak ramah, sebelum kereta anginnya dikayuh kencang melintasi pinggiran Fort Marlborouhg.

Dalam perjalanan pikiriran berkecamuk. Teringat akan kata kata penyair di surat kabar tadi. Akankah kenangan hanya tinggal kenangan tanpa berujung? Mungkinkah apa yang terjadi inimerupakan temuan hidup? Ataukah ini merpakan siksa hidup, karena ada yang salahku dalam hidup!

Kereta anginpun terus dikayuh menyisir pinggiran jalan raya. Tak ada tegur pangil sahabat lamanya yang sempat berpapasan, selain sebuah ungkapan sindiran, “lanjuuut!”.

Ilham bertekad mendadak terbetik datang dalam benak Mahgdalena. Tapak Paderi, titik nol Negeri Bengkulu mestilah ditinggalkan.

“Kalaulah kenangan yang lama bisa aku benamkan dalam Samudera Hindia, kenapa pula kenangan baru tidak ku benamkan juga dalam-dalam….”.

GEGAR OTAK

Belum habis ilham itu menguraikan tekad, melintas kencang mobil sedan yang dikendarai seorang polisi, menghantam kereta angin yang dikendarainya.

Mahgdalena terpental dan konon ia mengalami gegar otak akut. Kini dalam kesehariannya, hanya deburan ombak dan bukitan Tapak Paderi saja yang di ingatnya tanpa makna.

Bakkata pepatah Bengkulu lama, “Rumah kecil tidak berpagar, rumah besar tidak berpintu. Masih kecil tidak belajar, sudah besar tidak pula mau berguru”.

Kini wanita itu hidup hampa tanpa rasa. Penantian kenangan sudah masuk lima tahun berlalu. Sementara tatapan Mahgdalena kini kosong tanpa asa cita. Aleksi rupanya kembali tuk memenuhi janji. Tersentak melihat kondisi pujaan hatinya, Aleksi menitikan air mata dan segera pergi meninggalkan harapannya.

Tak ada lagi kesedihan, air mata maupun suka duka, saat Aleksi pergi, selain ucapan, ‘deburan ombak di Tapak Paderi”. Hanya itu saja yang disebutnya berulang-ulang, mungkin tiada maknanya lagi.

Pihak keluarga hanya diam menanti takdir. Apalagi Sang mantan lama yang terbui, sudah kembali bebas. Khabar Mahgdalena sempat terdengar olehnya. Karena hati Sang mantan terlanjur perih, kesedihanpun tak terungkap, selain berdoa minta ampunan kepada Tuhan Yang Pengampun. [**]