Cerpen  

Terperangkap di Pulau Biru

Terperangkap di Pulau Biru. (Foto/Net)

Kesal dan Cemas

Mataku terus menatap langit-langit kamar dan tak mau terkatup. Hari mulai menjelang sakit. Saya dikagetkan dengan suara dentuman musik live, seperti suara orang lagi hajatan. Tapi anehnya dentuman musik itu terdengar dari berkecamuknya berbagai lagu.

Jeritan suara pintu kamar membuat saya tersentak dari lamunan. Ternyata cintaku ku. “Om aku mau tanya, sebenarnya ini tempat siapa? Kok perasaan aku jadi nggak enak ya!”

Berbagai alasan Om riki menjawab hingga akhirnya terbayar pun pecah. Satu gamparan dari seseorang yang tadi aku kenal ramah dan lembut, membuatku diam sembari menitikan air mata. Apalagi ancaman maut sepucuk pistol rakitan menempel di kepala, hingga selangkanganku jadi kuyup.

“Maaf Om… Ampuni aku Om…”, rintihku. Dekapan erat kembali ku terima. “Pokoknya Neng ikut aja maunya Om ya! Yang penting kini kita selalu bersama dan akan mendapatkan kesenangan”, bujuk Om Riki. Anehnya aku seperti kerbau dicucuk hidung, dan nurut saja hingga akhirnya aku terjerembab di dalam ‘lumpur hitam, di dunia yang kelam’.

Sinar kerlap-kerlip lampu sempat membuatku pusing, hingga aku tetap menggandeng tangan Om Riki. Suasana perkampungan Pulau Pulau Biru kian marak dan ramai. Malam itu aku di kenali oleh beberapa pria bermata merah dan mulut berbau comberan. Awalnya aku enggan membalas sapaan. Pelototan mata Om Riki membuat diriku terpaksa menyapa dan meraih tangan mereka.

Tak ku ingat kalau hidup ini ada Tuhan. Saat itu aku hanya mengikuti irama hidup dan pasrah diantar kesal, marah dan cinta. Ntah apa yang mereka temui, namun sempat terdengar oleh saya saat Om Riki berkata, “ Ini barang baru. Bukan barang baru stok lama”, katanya sembari terkekeh-kekeh.

“Neng temenin teman Om sebentar ya…….”, kata Om terus berlalu di tengah ramainya masyarakat. Firasatku kian benar, ada gejala tak baik yang akan dilakukan my love. Tapi aku seakan mati akal. Hingga akhirnya pemaksaan seorang pria merenggut milikku. Isak tangisku kembali pecah dan Om Riki kembali menenangkan. Satu kantong plastik baju, perhiasan dan makanan, saya coba membujukku.

“Oh Mak, Abah anakmu kini tenggelam di Kota Bengkulu”.