Hamil
Singatku, sudah enam bulan aku digerayangi berbagai pria hidung belang. Tapi hari ini terasa benar-benar lemas lemas dan pusing dan mual. Mau mengadu sama Om Riki, takut marah bila dibangunkan saat sedang tidur. Apalagi tadi malam Om Riki masuk kamar dengan kondisi mabuk berat.
Aku berdoa menuju pos kesehatan yang letaknya tak jauh dari tempat tinggalku. “Waduh Neng, kamu hamil”, kata seorang petugas kesehatan. Aku hanya bisa terdiam dan kembali masuk ke kamar menunggu Om Riki bagun dari tidurnya.
Aku ceritakan kehamilan ini saat Om Riki bangun dan menyeruput kopi buatanku. Tak tampak ekspresi di raut wajah Om Riiki. “Beringkas semua pakaian, besok kita pindah”, jawabnya datar.
Keesokan harinya aku dibawa ke pinggir kota, dan di kontrakan sebuah rumah bedengan. Dari sinilah kisah kedua ku, dengan janin yang tak tahu benih siapa. Selama satu tahun hingga anak lelaki ku lahir, aku bermukim di bedengan kecil. Om Riki memang sudah jarang datang lagi. Namun sumbangsihnya dari sisi keuangan terus mengalir, hingga bayiku berusia dua bulan. Setelah itu laku kehilangan kontak hingga saat ini.
Saat itulah dan dengan kebaikan para tetangga, aku dapat bertahan hidup, dengan menjadi pembantu rumah tangga. Aku terus gonta-ganti rumah kontrakan, mencari yang lebih rumah, meski beratap rumbia, berdinding pelupuh dengan lampu pelita.
Tapi sudahlah, itu cerita lama. Kini anakku sudah menyelesaikan sekolah tingkat atas dan bekerja. Aku kini punya warung manisan kecil, atas kebaikan tetangga yang merasa iba. Hanya itu pekerjaan yang dapat saya lakukan, dengan ijazah hanya Tamatan Kanak-Kanak saat masih dikampung dahulu.
Hingga kini aku tak tahu kabar keluargaku di kampung dan akupun juga tak ingin pulang kampung karena merasa nista, tercela, kotor. Biarlah hanya aku saja yang tahu kisah masa laluku.
Pernah beberapa tahun lalu, aku melihat seorang wakil rakyat di televisi, mirip dengan cintaku ku Om Riki. Tapi aku menampik dugaan itu. Fikirku, mana mungkin seorang GM bisa menjadi wakil rakyat.
“Bu ada rokok?” Seorang anak SMP mengagetkanku. “Kalau ada, beli sebatang aja”, katanya. Tampak fikir panjang, sebatang rokok, ku jual pada anak itu.
Dunia akan terus berputar pada porosnya. Saya tidak tahu dimana kisah hidup saya ini berakhir. Nyatanya, usai melepas cintaku, tak sedikit pria mendekat dan ingin meminangku. Ingin menjadi Pelakor alias perusak laki orang, bukan solusi yang harus saya ambil. Meskipun pengalaman untuk itu pernah saya raih dan mungkin khatam saat di Pulau Biru.
Cerpenis tinggal di Bengkulu









