Cerpen  

Terperangkap di Pulau Biru

Terperangkap di Pulau Biru. (Foto/Net)

Mirip Kampung Pedalaman

Sekali teriak “kiri pir”, Supir Angkot itu langsung meminggirkan kendaraannya, berhenti.

“Eh dah sampai ya Om…….”, tanyaku.

“Sedikit lagi Neng, tinggal sekali naik ojek aja kok sudah nyampai”, kata Om Roki sambil mengusap kepalanya dan membuat aku tersenyum simpul. “Iih Om nih, Neng jadi gemetaran Om”, kataku manja.

Perjalanan naik ojek kali ini cukup dramatis. Hutan dan anak sungai pun sempat dilalui, hingga akhirnya tiba juga di sebuah perkampungan di pinggir pantai. Kamipun turun, dan tak mau tanpa Om Riki membayar ongkos Ojek, dan akupun enggan untuk bertanya. Mungkin pengendara ojek itu masih teman atau kerabatnya.

Deburan ombak membuat detak jantungku berdetak kian kencang dan mendadak kembali teratur saat beberapa tatapan mata pembohong bermakna ketika ayunan kaki menuju gerbang sebuah perkampungan pedalaman yang berada di pinggir pantai, yang semarak tatkala malam menjelang. Pantai Pulau Biru Kota Bengkulu.

Kami berhenti di sebuah rumah berplafon rendah dengan berbagai hiasan lampu dan terkesan kumuh. Firasat ku mengatakan ini merupakan awal tak baik. Satu rumah tanpa tatanan kepatutan. Tapi Om Riki tampak tanpa ekspresi memboyongku ke sebuah kamar. “Ini rumah siapa Om? Yang lagi tidur kursi dan yang duduk di beranda luar itu siapa?” tanyaku.

Om Riki tak menjawab, malah satu kecupan di kening membuat diriku luluh untuk kembali bertanya.

“Nanti Om jelaskan ya Neng…….Sekarang Neng istirahat saja dulu dikamar. Om mau menemui tetangga disebelah rumah sebentar aja”, katanya.